Cerita Janda Muda Paling Hot Minggu Ini

Senin, 01 Juli 2013

cerita hot janda muda kesepian

Perusahaan saya saat itu
menyewa sebuah rumah yang dijadikan
kantor. Selain perusahaan saya, rumah tersebut juga disewa oleh dua
perusahaan lainnya yang bergerak di
bidang jasa. Saat itu saya bekerja sebagai
staf administrasi. Perusahaan saya
terbilang kecil, hanya memiliki karyawan
di bawah sepuluh orang saja. Kehidupan seksual saya sebenarnya
normal, saya telah berkeluarga dan
memiliki anak berumur satu tahun.
Kebahagiaan kami berjalan seperti
layaknya sebuah keluarga kecil yang
bahagia, tanpa kekurangan satu hal pun. Hingga pada suatu saat, perusahaan yang
bersebelahan dengan saya, sebut saja PT
A, mempekerjakan seorang karyawati
baru di bidang administrasi. Namanya
Voni. Gadis ini berperawakan kecil,
namun manis. Berkulit sawo matang dengan mata berbulu lentik. Rambutnya
agak ikal. Voni ini keturunan arab. Sering
saya dengar bahwa pria keturunan Arab
memiliki libido yang sangat tinggi. Untuk
perempuannya, saya belum pernah
mendengar selentingan mengenai perilaku seksnya. Kehadirannya menyita perhatian semua
karyawan yang bekerja di sana, tidak
hanya karyawan tempat perusahaan Voni
berkerja, PT A, tapi semua perusahaan
yang menyewa tempat tersebut. Hal ini
sangat memungkinkan, karena memang perangai Voni sangat ceria, agak centil,
dan juga selalu berpakaian ketat
mengundang birahi pria manapun yang
melihatnya. Seringkali Aku dan Voni mencuri
pandang, pandangannya mengisyaratkan
sesuatu yang saat itu, aku sendiri belum
bisa menangkap makna yang
tersembunyi. Suatu ketika, kami bertemu di depan
pintu masuk. Saat itu pintu masih dalam
keadaan terkunci, sehingga kami
terpaksa harus menunggu sampai teman
kami yang membawa kunci datang.
Dengan agak gugup, saya mencoba memberanikan diri menyapanya. “Voni ya.. Gimana.. Kerasan kerja di sini?”
pertanyaan yang benar-benar retoris,
hanya sebagai ice breaking.
“Lumayan lah..” jawabnya sambil
menyodorkan kue kecil, “Mau Mas..?” Aku ambil biskuit pemberiannya dan
mulailah pembicaraan mengalir lebih
lancar. “Dari mana dapat info tentang lowongan
pekerjaan di sini?” selidikku.
“Saudara saya kenal dekat dengan
pemiliki PT A, lagipula saya masih
dihitung sebagai magang kok. Jam
kerjanya tidak terlalu memaksa, karena saya masih sambil kuliah,” jawabnya
dengan manis. Terlihat jelas lesung pipit
di pipi sebelah kiri dan lentik bulu
matanya. “Si Mas sombong ya.. Selama tiga bulan
saya kerja di sini, belum pernah menegur
saya, sedangkan yang lain sudah saya
kenal. Setiap saya lihat Mas, pandangan
Mas, dingin, seakan tidak menghargai
keberadaan saya” “Ah itu perasaan Voni saja, saya tidak
begitu kok, kalau tidak percaya tanya saja
sama karyawan yang lain, Saya ini
tipenya periang loh..” obral saya.
“Tapi nggak apa-apa kok, justru
dinginnya Mas memancing rasa penasaran saya..” timpalnya manja.
“Oh ya Mas, kalau ada waktu bisa nggak
Mas membantu saya mengajarkan
komputer Sabtu ini, saya ada tugas dari
kantor, namun agak kesulitan
menyelesaikannya, lagian si Mas kan libur hari Sabtu..?” undangnya penuh manja.
“Wah.. Belum tentu bisa..” timpal saya sok
menjual mahal, “Nanti lah akan saya
beritahu,” lalu kami pun saling bertukar
nomor HP.
“Mas.. Jadi nggak ngajarin saya, saya sudah di kantor nih..” tanyanya pada
Sabtu itu.
“Wah saya lupa..” pikirku, karena panik
langsung saja saya jawab, “Iya saya
dalam perjalanan kok ke sana..”. Setiba di kantor, Voni telah berada di
depan meja komputer. Dengan celana
jeans dan baju putih ketat, jenis pakaian
kesukaannya, jelas mempertontonkan
lekuk tubuh sintal dan buah dadanya
yang ranum. Sambil menelan ludah aku hampiri
mejanya sambil memulai mengajarkan
komputer. Dari samping tampak jelas dua
tonjolan di balik baju ketatnya tersebut,
terlebih baju tersebut agak terbuka di
bagian atasnya. Langsung saja darah saya berdesir melihat pemandangan ini. “Wuih.. Beda banget sama yang
dirumah..” pikirku. Cukup lama aku mengajarinya komputer
hingga waktu makan siang tiba. Saat itu
aku memberanikan diri menyapanya. “Kamu nggak lapar?” tanyaku sambil
memegang perutnya, maklum sudah
hampir dua jam aku menahan libido
melihat pemandangan menggiurkan.
Tanpa dinyana ia menjawab sekenanya. “Lapar yang mana nih? Yang di perut atau
di bawah perut?”
“Wah berani juga nih anak. Ya dua-
duanya dong, terserah kamu mana yang
mau diatasi lebih dahulu, perut atau
bawah perut?” kataku kini dengan mengelus pahanya.
“Terserah Mas deh..” tangannya
menggenggam tanganku dengan erat. Tak berapa lama, matanya seakan
mengajakku untuk pindah ruangan.
Ruang atasannya, yang semula dikunci
dibukanya sambil menggandeng
tanganku. Aku yang di belakangnya
manut saja, karena memang kami berdua sudah sangat on. Setiba di ruangan tersebut, langsung saja
kulumat bibir tipisnya.. Wuih seperti di
surga rasanya. Kecupanku dibalasnya
mesra dan terasa sekali hangat bibirnya. Lama bibir kami saling berpagutan. Tak
kusangka, ternyata responnya luar biasa.
Tanpa terasa tangan kami terus menjalar
mencari arah genggaman yang seakan
tidak pernah kami dapatkan. Aku sendiri
tidak jauh dari menggenggam pantatnya yang sintal di balik jeansnya, sambil
sesekali menggesekkan batangku ke arah
vaginanya. Sambil mendesah Voni terus
membalas ciumanku seakan tidak ingin
melepaskan. Sementara aku mulai
mencoba menelanjanginya. Tangan kananku kucoba untuk melepaskan
zipper celana jeans Voni dan juga
celanaku. Kudengar semakin keras
desahannya ketika alat kelamin kami
saling bertemu, meskipun masih
terhalang oleh CD masing-masing. Tak lama aku lepaskan pengikat celana
kami masing-masing dan dengan cepat
Voni menurunkan celana jeansnya,
demikian juga aku. Kulucuti celanaku dan
juga T-Shirt yang menutupi badanku.
Masih mengenakan CD dan baju ketatnya, Voni langsung kembali melumat bibirku,
sementara tangan kananku mulai aktif
mencoba menyusup ke dalam CDnya.
Dengan cepat Voni memegang tangan
kananku tersebut sambil menggelengkan
kepalanya. Dengan kecewa kutarik tanganku dari balik CDnya, meskipun
sempat terasa bulu-bulu halus yang telah
membasah karena rangsangan yang ada. Setelah gagal menembus CD, aku
mencoba memasukkan tanganku ke
dalam BHnya, kali ini Voni tidak
menolaknya, malah melenguh laksana
sapi saja. Tanpa terasa ternyata, tangan
kanan Voni telah meremas penisku sementara tangan kirinya melingkar di
leherku. Tampak sekali betapa Voni
merasakan setiap remasanku dan
remasannya di penisku. Setiap
kudenyutkan penisku, setiap kali pula
Voni melenguh, ditambah lagi ketika kuremas buah dadanya dan kupelintir
putingnya. Tak tahan dengan permainan tanganku
itu, tiba-tiba Voni melenguh dengan agak
ditahan. “Wah.. Cepat juga ‘dapat’nya nih anak..”
pikirku, sambil terus kuremas dan
kuhisap puting dan buah dadanya. Setelah merasakan orgasme pertamanya,
Voni kemudian membungkuk
menghadapku sambil melepaskan
atasannya. Praktis kini dia hanya
memakai CD saja. Sambil membungkuk
langsung saja dia menurunkan CD Crocodile ku. Dengan mantap dijilatnya
kepala penisku sambil meremas batang
dan sesekali mengelus buah pelirku.
Slowly but sure Voni memainkan penisku
dengan tiga unsur; tangan, mulut dan
lidah. Kombinasi gerakan, kocokan dan kulumannya sungguh luar biasa. Kembali
kurasakan perbedaan ketika aku
menjamah istriku yang selalu ingin
konvensional saja. Tak kuasa aku menahan gempurannya,
kuangkat kepalanya dan kini ia kembali
sejajar denganku. Kulumat mesra kembali
bibirnya sambil berbisik. “Boleh ya..?” tanyaku dan tanganku
mencoba masuk ke dalam CDnya untuk
kedua kalinya. Kali ini ia tidak menjawab dan hanya
mengangguk. Dengan senang kutelusuri
bagian sensitif di bawah perut tersebut.
Terasa bulu-bulu halusnya yang telah
basah sejak permainan tangan kami
pertama. Ketika tangan kananku mencobanya masuk, tangan kiriku
dengan perlahan menurunkan CDnya.
Kini kami telah berhadapan naked. Mulai
kugesek-gesekkan penisku di depan
vaginanya. Desahan kudengar kembali
dari bibirnya, kali ini sambil kulirik ke sekitar ruangan untuk dapat bersandar,
sampai akhirnya kutemukan meja agak
besar dan sambil kudorong badannya ke
arah meja tersebut. Setelah bersandar, Voni langsung
merebahkan tubuhnya di meja tersebut
dan langsung tampak jelas kulit
mulusnya dengan dua gundukan di atas
serta barisan ’semut hitam’ di bagian
bawah. Tahi lalat di samping kiri perutnya menambah sensasi rangsangan
yang ada. “Ayo cepat Mas..” ajaknya mengaburkan
lamunanku sambil mencoba meraih
penisku untuk diarahkan ke liang
vaginanya. Tanpa menunggu waktu lama, langsung
saja kucoba membenamkan penisku ke
liang vaginanya. Wuih, susah dan sempit
sekali. “Pelan-pelan Mas..” ucapnya lirih. Tak kusangka tingkah lakunya yang agak
centil selama ini ternyata tidak serta
merta membuatnya menjadi cewek
gampangan. Terbukti, dia masih perawan
ketika aku menyetubuhinya saat itu. Dengan perlahan, kucoba membenamkan
penisku ke dalam vaginanya. Masuk,
kemudian keluar dan kembali masuk,
demikian beberapa kali, untuk
memberikan space yang cukup agar
penisku bisa leluasa di dalam lubang surgawi tersebut. Sampai akhirnya,
berhasil juga kubenamkan penisku itu. “Bless..”
“Ach.. Ehm..” Seperti bersahutan bunyi penetrasi
penisku dengan desahannya. Semakin
lama kupacu penetrasiku di dalam
vaginanya, sementara kedua tanganku
meremas payudaranya dan sesekali
kuarahkan untuk memegang pantatnya yang seksi. Sepuluh menit kemudian, kembali Voni
melenguh ketika mendapatkan
orgasmenya yang kedua siang itu. Selang
beberapa lama, Voni bergerak, berbalik
membelakangiku. Kutahu maksudnya,
sambil dituntunnya, penisku kumasukkan ke dalam vaginanya dan
kamipun memulai ‘aksi’ doggy style. Sungguh besar juga libido Voni yang
keturunan Arab ini, terbukti gerakannya
seperti membabi buta ketika dia
membelakangiku. Sampai sakit rasanya
mengikuti gerakan cepat dan rotasi yang
dilakukannya. Benar-benar pengalaman seks yang luar biasa. Sambil menggoyang-goyangkan
pantatnya, sesekali dicobanya untuk
meraih zakarku dari arah bawah, kadang
tanpa disadarinya, dipencetnya zakarku,
sampai aku menjerit kesakitan.
Sementara aku, tetap memacunya dari belakang dan kedua tanganku
menggenggam buah dadanya yang
ranum tersebut. Cukup lama kami dalam
posisi tersebut, sampai akhirnya terasa
penisku agak berkejut ingin
memuntahkan lahar sperma hangatnya. Sambil terbata-bata kutanya dia, mau
dikeluarkan di mana? Dengan cepat dia
cabut penetrasi doggy style dan langsung
menghadapku. Diraihnya penisku dan
digenggamnya dengan penuh nafsu.
Sambil menjilati kepala penisku. Kemudian langsung dikocok-kocoknya
penisku dan dikulumnya ketika
dirasakannya penisku mulai berdenyut.
Dan.. Tumpahlah semua lahar sperma
yang ada dalam penisku. Dengan
seksama, ditelannya limpahan spermaku, meskipun masih ada juga bagian yang
tercecer di bibirnya yang tipis. Ceceran di
bibirnya dijilatinya dengan lidahnya
sekan tidak rela membuang percuma
lelehan sperma dari penisku. Aksinya
ditutup dengan pembersihan sisa-sisa sperma di kepala penisku. Sambil tersenyum, kami berdua
menuntaskan birahi kami dengan sebuah
kecupan mesra yang panjang. Kami tahu,
bahwa ini bukanlah yang terakhir yang
kami lakukan. Sambil terengah-engah
Voni berucap mesra. “Makasih ya Mas.. Next time bisa lagi
kan?” Dengan tersenyum penuh arti, tentu saja
sebagai lelaki normal, aku anggukkan
kepalaku mengiyakan.. Setelah kejadian itu, kami sering
melakukannya, malah kami sering nekat
melakukannya sepulang kerja di
ruanganku, di ruang tamu bahkan di WC.
Namun kini, hampir setahun kami tidak
berhubungan lagi. Aku kehilangan kontak dengannya. Terakhir yang aku
tahu, dia akan menikah dan tinggal di
daerah Tangerang.. Voni.. Jika kau membaca cerita ini.. Aku
masih membutuhkanmu sayang..

Tidak ada komentar: